Kitab Ester Lukisan Puncak Kegagalan Israel sebagai Saksi Allah

Tinjauan Misiologis (Bagian 4)
Budi Kasmanto
Misiologi mempelajari mandat, pesan dan karya misionaris. Kata benda “misi” berarti  perutusan, kata kerjanya berarti mengutus, mengirim, membiarkan pergi.
Dalam kitab Wahyu Yohanes menulis, Dan Aku akan memberi tugas kepada dua saksi-Ku, supaya mereka bernubuat sambil berkabung, seribu dua ratus enam puluh hari lamanya (Why. 11:3). Pertanyaanya, siapakah kedua saksi Allah tersebut?
Tulisan berikut menunjukkan bahwa Israel dan Gereja memperoleh mandat atau misi dari Allah untuk tugas kesaksian. Keduanya memperoleh tugas untuk memberitakan kemuliaan Allah yang dinyatakan-Nya melalui perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib. Tetapi melalui kitab Ester dapat dilihat bahwa Israel gagal menjalankan misi Allah tersebut.
Allah menetapkan Israel sebagai saksi-saksi-Nya.
Allah berfirman melalui nabi Yesaya. Yes. 43:10, “Kamu inilah saksi-saksi-Ku,” demikianlah firman TUHAN, “dan hamba-Ku yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. (Lihat juga 43:12 dan 44:8).
Penetapan Israel menjadi saksi-Nya dimulai dengan pemilihan Abraham (Kej. 12:1-3), diteruskan kepada Ishak dan Yakub dan anak-anaknya yang disebut Israel. Tujuan Allah adalah menjadikan Israel bangsa yang percaya kepada-Nya, menaati-Nya, beribadah kepada-Nya dan memuliakan nama-Nya serta menjadi kesaksian bagi dunia bahwa Allah yang mahabesar tinggal di antara mereka.
Kemuliaan Allah terpancar atas Israel ketika bangsa ini dituntun-Nya keluar dari Mesir dan dibawa-Nya ke negeri perjanjian. Perbuatan-perbuatan besar dilakukan Allah pada waktu itu. Dan semua itu dilakukan-Nya di depan segenap Israel, seperti dikatakan dalam Ul. 11:7, Sebab matamu sendirilah yang telah melihat segala perbuatan besar yang dilakukan TUHAN.
Dan perbuatan-perbuatan besar dari Allah inilah yang menjadi pengikat bagi bangsa ini untuk beribadah kepada-Nya. Dikatakan dalam Hak. 2:7, Dan bangsa itu beribadah kepada TUHAN sepanjang zaman Yosua dan sepanjang zaman para tua-tua yang hidup lebih lama daripada Yosua, dan yang telah melihat segenap perbuatan yang besar, yang dilakukan TUHAN bagi orang Israel (lihat juga kitab Yos. 24:31).
Tetapi setelah Yosua dan para tua-tua, yang melihat perbuatan-perbuatan ajaib dari Allah, mati Israel hidup dalam ketidaktaatan, tidak beribadah kepada Allah, namun beribadah kepada berhala. Mereka menyakiti hati TUHAN dengan meninggalkan-Nya dan sujud menyembah Baal (Hak. 2:10-12). Hidup mereka tidak lagi memancarkan kemuliaan Allah. Mereka gagal menjadi saksi Allah.
Setelah zaman Hakim-hakim lewat, muncullah Daud yang dipilih Allah untuk mennjadi saksi bagi kemuliaan nama-Nya. Kisah hidup dan mazmur-mazmur yang ditulisnya menunjukkan bahwa Daud bergaul akrab dengan Allah dan beribadah dengan kesungguhan hati kepada-Nya. Juga Daud membawa Israel menjadi bangsa yang beribadah kepada Allah. Tetapi Salomo, anak Daud, yang dikaruniai hikmat dan kekayaan yang sangat luar biasa mengakhiri hidupnya dengan penyembahan berhala. Dan selanjutnya dapat dikatakan bahwa bangsa Israel selalu berlaku jahat di mata Allah. Mereka selalu memberontak terhadap Allah sehingga berakhir dengan pembuangan mereka dari negeri perjanjian.
Dalam pembuangan, dari kitab Ester, nyata bahwa mereka gagal menjadi saksi-saksi Allah. Mereka tidak beribadah kepada Allah dan hidup dalam dosa, seperti dosa pendahulu mereka. Sebagai suatu bangsa, mereka gagal menjalankan misi Allah, yakni menjadi kesaksian bagi bangsa-bangsa akan kebesaran dan kemuliaan-Nya.
Untuk memperjelas kegagalan Israel sebagai saksi-Nya, seperti tercatat dalam kitab Ester, Allah memanggil dan menampilkan sekelompok kecil orang Yahudi, yang juga hidup dalam pembuangan, yang menjadi kesaksian bagi nama-Nya, yang memberitakan Allah yang sanggup melakukan perbuatan-perbuatan besar. Mereka itu adalah Daniel dan kawan-kawannya, Sadrakh, Mesakh dan Abednego.
Bertentangan dengan Mordekhai yang membuat raja Ahasyweros memuliakan dirinya (Est. 10:2) dan membawa orang Yahudi menghormati dan memuliakan dirinya (Est. 10:3) Daniel menjadi kesaksian bagi nama Allah dengan membuat raja-raja dan bangsa-bangsa kafir melihat dan memuji kemahakuasaan Allah Israel yang disembahnya (lihat kitab Dan. 2:47; 4:37; 6:27).
Tetapi sejarah Israel tidak berhenti pada puncak kegagalan mereka, sebab Allah masih berurusan dengan mereka. Mata-Nya tetap memandang mereka dengan penuh kasih. Dan Alkitab bersaksi bahwa Allah akan melakukan perbuatan besar dan ajaib  atas Israel, yakni dengan membangkitkan mereka.
Kebangkitan Israel dinubuatkan oleh Yesaya dan Yeremia dan dikutip oleh Paulus dalam kitab Rm.11:26-27Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: “Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan Yakub. Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka”.
Dalam kitab Yehezkiel 37, Yehezkiel menggambarkan Israel sebagai tulang-tulang yang sangat kering yang berserakan, gambaran dari keadaan terhilang dan kehinaan yang mengerikan. Tetapi Yehezkiel juga menubuatkan kebangkitan bangsa pilihan ini. Yeh. 37:13-14 berbunyi, Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada saat Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu… Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu sehingga kamu hidup kembali…
Allah menetapkan Gereja sebagai saksi-saksi-Nya.
Kehidupan di pembuangan di negeri asing merupakan keadaan yang sangat bertolak belakang dengan kehendak Allah untuk menjadikan Israel dan Yerusalem kemuliaan bagi nama-Nya.
Maka dari orang-orang Yahudi di pembuangan yang tidak beribadah kepada-Nya, Allah memisahkan sebagian kecil saja untuk dituntun-Nya pulang ke Yehuda. Tetapi dalam perkembangannya, mereka yang pulang pun akhirnya tidak beribadah secara benar kepada Allah, karena para ahli Taurat, penerus Ezra, mengajar mereka tata cara ibadah secara lahiriah.
Kitab-kitab Injil mencatat kehidupan dan ibadah mereka yang menggenapi nubuat Yesaya, bahwa bangsa ini memuliakan Allah hanya dengan bibirnya, sedangkan hatinya menjauh dari-Nya dan ibadah mereka mengikuti perintah manusia (Mat. 15:8-9).
Dari kitab-kitab Injil dapat dilihat bahwa kemudian Yesus memisahkan sejumlah kecil orang Yahudi untuk mengikut Dia, menjadi murid-murid-Nya. Dan setelah kematian dan kebangkitan-Nya, Ia menetapkan mereka menjadi saksi-saksi-Nya (lihat Luk. 24:48 dan Kis. 1:8) yang dipenuhi-Nya dengan Roh Kudus dan diutus untuk bersaksi tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah (lihat Kis. 2:11). Tetapi perbuatan Allah terbesar yang harus menjadi berita utama adalah bahwa Ia membangkitkan Kristus dari antara orang mati yang melaluinya manusia dapat memperoleh pengampunan dosa dan memiliki pengharapan akan hidup bersama Allah dalam kemuliaan-Nya.
Bagi bangsa-bangsa lain, perbuatan besar yang dilakukan Allah adalah memanggil mereka keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1Ptr. 2:9). Atau dari penyembah berhala menjadi penyembah dan pelayan Allah yang hidup dan yang benar (1Tes.1:9-10). Dan orang-orang percaya, Gereja atau Jemaat Tuhan, mempunyai tugas untuk meneruskan Berita Baik tentang kebangkitan Kristus sampai ke ujung bumi dan dalam kurun waktu sampai kedatangan-Nya kembali.
Bukan hanya memberitakan pertobatan dan pengampunan dosa bagi bangsa-bangsa, Gereja juga memperoleh tugas untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada akhir zaman, memberitakan perbuatan besar Allah yang dilakukan-Nya secara ajaib terhadap Israel.
Daniel menulis bahwa pada akhir zaman banyak orang akan menyelidiki Kitab Suci dan memperoleh pengetahuan tentangnya (Dan. 12:4) dan bahwa hanya orang-orang bijaksana yang akan memahaminya (ayat 9-10). Sementara Yohanes bersaksi dalam kitab Why. 22:6, Lalu Ia berkata kepadaku: “Perkataan-perkataan ini tepat dan benar, dan Tuhan, Allah yang memberi roh kepada para nabi, telah mengutus malaikat-Nya untuk menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi.”
Orang-orang bijaksana yang disebut Daniel dan hamba-hamba-Nya yang disebut Yohanes mengacu pada Gereja. Gereja atau orang-orang percaya Kristus memperoleh tugas untuk menyelidiki Kitab Suci dan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang terjadi menyangkut Israel atau Yahudi, yang di masa kini menuruti jalannya sendiri hingga mereka memandang dan mengakui bahwa Yesus adalah Allah Yahweh yang menyatakan diri kepada hamba-hamba-Nya pada masa Perjanjian Lama, bahwa Yesus adalah Mesias yang mereka nantikan kedatangan-Nya.
Israel dan Gereja merupakan dua saksi Allah dengan karakteristik yang berbeda. Sementara ini Israel menjadi saksi Allah dalam ketidaktaatan mereka, sedangkan Gereja bersaksi oleh panggilan mereka sebagai orang percaya Kristus. Objek kesaksian Gereja adalah Israel dan segala peristiwa yang terjadi atasnya yang terjadi oleh perbuatan besar Allah.
Menjelang akhir zaman akan terjadi pertobatan orang-orang Israel. Gereja orang-orang Israel dan Gereja dari bangsa-bangsa lain menjadi dua saksi Allah yang bernubuat atau memberitakan perbuatan-perbuatan besar dari Allah, seperti dinyatakan dalam Why. 11:3 yang telah dikutip di atas.
Kedua saksi tersebut saling melengkapi, menjadi satu kesatuan, mengalir dalam rancangan Allah dan bermuara pada kemuliaan dan kemashyuran Allah dalam Yesus Kristus.
Catatan: Pada bagian 5 (terakhir) seri tulisan ini Kitab Ester akan ditinjau secara tipologis dan ditunjukkan bahwa Mordekhai adalah tipologi Mesias palsu. Juga akan disampaikan garis besar kemunculan Mesias palsu itu.
  • Artikel dimuat di Majalah Suara Baptis No. 1 Th. 2017
LIHAT ASLINYA KLIK DISINI

Komentar

Postingan Populer